Beberapa hari ini saya beruntung memiliki banyak kegiatan diluar kebiasaan saya berbuat dosa seperti bergosip atau berpikir yang tidak-tidak. Itu semua membuat saya agak sedikit lega akan pemberhentian terakhir saya dimana, apakah di tempat adam dahulu pertama kali tinggal dan bersenang-senang atau menemani kawan lama saya yang banyak memberitahu saya tentang asyik dan nikmatnya berbuat dosa. Setidaknya saya berpikir ada secercah harapan untuk dapat tinggal di tempat yang enak di akhir hayat saya. Tentu saja kegiatan yang saya maksud adalah aktivitas yang banyak orang bilang kegiatan positif.
Bicara tentang positif saya jadi ingat tentang pelajaran yang dahulu diajarkan beberapa tahun silam waktu saya duduk di bangku sekolah. Pelajaran yang yang menurut saya paling sulit. “alah, masnya aja yang goblok ga ketulungan…..sulit itu kan cuma alasan aja..” celetuk teman ketika saya lagi gembar-gembor bercerita sulitnya pelajaran tersebut. Pelajaran itu adalah pelajaran fisika, mungkin anda lebih mengerti tentang pelajaran tersebut daripada saya yang IQ nya jongkok, atau mungkin karena saking parahnya lebih ke tiarap.
Bagaimana sabuah muatan positif mempengaruhi yang tidak bermuatan atau yang sering kita sebut netral menjadi postif. Begitu juga sebaliknya jika muatan negatif yang mengalir sehingga membuatnya menjadi negatif. Hal itu terus menerus terjadi. Ternyata aktifitas fisika ini terjadi juga di dalam otak saya yang parah daya pikirnya. Ketika pikiran positif itu muncul dan menciptakan lingkungan yang positif di kepala saya, maka yang saya pikirkan akan terus menerus positif. Namun sebaliknya jika pikiran negatif yang muncul sudah pasti satu paket dosa saya dapatkan ditambah bonus teguran langsung dari yang menciptakan saya. Ketika saya memutuskan untuk berbohong, maka untuk menutupi kebohongan itu saya harus berbohong lagi. Jadi berapa akumulasi dan bonus yang bakal saya dapatkan. Saya harap anda tidak iri dengan bonus yang saya peroleh.
Rantai
Hal itu akan terus menerus terjadi dan berulang,seperti regenerasi manusia saat ini yang menyebabkan bumi penuh sesak dan kita semua harus berbagi dengan satu dan yang lainnya dalam banyak hal. Sehingga dalam banyak hal kita harus membayar untuk mendapatkan ataupun melakukan sesuatu. Padahal sang pencipta memberikannya kepada kita semua secara cuma-cuma. Untuk dapat air kita harus bayar, makan harus bayar, sampai buang hajat saja bayar, untung saja buang angin masih belum bayar sampai sekarang.
Atau kalau menurut otak lemot saya bilang mirip rantai sepeda kesayangan saya yang terus menerus dikayuh. Semakin kencang saya mengayuh semakin kencang saya dibawa semakin jauh saya dari tempat saya semula, semakin asik pula saya. Dan akhirnya sadar bahwa saya telah terlalu jauh mengayuh sehingga terlalu lelah dan malas untuk kembali.
Setelah saya memutar otak untuk kesekian kalinya sampai-sampai otak saya ga karuan lagi bentuknya saya harus menanamkan kontrol yang lebih kepada program “kotor” yang ada di otak saya agar otak yang cuma satu-satunya ini yang sudah parah bentuk dan daya pikirnya tidak tambah hancur. tidak lupa sesekali dicek di rumah tuhan supaya terjamin kebersihannya.